Memo Timur - Kabupaten Lumajang nampaknya masih belum bisa memenuhi sendiri kebutuhan komoditi cabai rawit. Pasalnya saat ini pasokan cabai rawit di Lumajang mengalami kekurangan, sehingga harus mendatangkan dari kabupaten tetangga, Jember dan Probolinggo.
Dengan mendatangkan cabai dari kabupaten lain, tentunya harga cabai otomatis lebih mahal ketika dijual di Lumajang. Pasalnya ada tambahan biaya operasional. Informasi dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dsiperindag) Lumajang, saat ini harga cabai rawit Rp 42 ribu perkilogram.
“Sebelum memasuki bulan puasa, harga cabai rawit masih di kisaran Rp 15 ribu perkilogram,” kata Kepala Bidang Perdagangan, Bambang Suryo saat dihubungi Memo Timur, Jum’at (12/8). Gagal Merampok, Juragan Meubel Bersama Anak Istri Dibacok
Bambang menjelaskan, alasan Lumajang masih mendatangkan cabai rawit adalah karena hanya sedikit lahan yang digunakan untuk menanam cabai. Pasalnya para petani tidak berani menanam cabai di saat cuaca tidak menentu seperti saat ini yang dikenal dengan isitilah kemarau basah.
“Banyak petani lokal yang tidak berani nanam lagi, takut gagal panen, karena musimnya kemarau basah,” terangnya. Kondisi Pasar Baru Lumajang Jorok
Sebelumnya, kata Bambang, lahan yang paling banyak digunakan untuk menanam cabai rawit berada di wilayah kecamatan Tekung, Pasirian, Kunir, dan Yosowilangun. Namun karena cuaca tidak menentu akhirnya para petani lebih memilih menanam komoditi lain yang lebih tahan.
Dengan kondisi seperti ini, kata Bambang, tidak dapat dipungkiri akan berdampak pada tingginya harga cabai rawit di Lumajang. Karena kenaikkan yang terjadi dibandingkan dengan beberapa bulan lalu bisa mencapai 300 persen. HAN, Akhiri Kekerasan pada Anak
“Selama cuaca masih seperti ini, potensi harga cabai naik lagi masih ada,” terangnya.
Bambang juga mengkhawatirkan, kondisi seperti ini akan berdampak pada inflasi daerah. Untuk itu, ia akan menyampaikan hal ini kepada Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Lumajang untuk kemudian dibahas bersama.
Sehingga nantinya, kata Bambang, hal ini bisa segera ditangani dan ada penyelesaian yang bisa dilakukan oleh TPID untuk mencegah adanya inflasi di Lumajang. Tak hanya itu, kesejahteraan para petani cabai sebelumnya juga harus diperhatikan.
“Semoga segera ditangani, dan harga cabai bisa kembali ditekan,” pungkas Bambang. (fit)