Akibat Kemarau Basah, Produktifitas Kopi Meningkat

Memo Timur - Fenomena musim kemarau basah, tidak sepenuhnya membawa dampak buruk terhadap komoditi pertanian di Lumajang. Kopi adalah contoh tanaman yang produktivitas serta kualitasnya jadi semakin baik. 

http://ift.tt/2biWtHN


"Komoditi kopi menjadi lebih baik karena tingkat semiannya bertambah," kata Kepala Kantor Perkebunan Kabupaten Lumajang, Drs Mahmud, Jumat (19/8/2016).

Kondisi ini, lanjutnya, disebabkan lahan budidaya tanaman kopi yang berada di kawasan lereng Gunung Semeru yang biasanya stagnan, menjadi semakin baik sebagai dampak masih tingginya intensitas hujan. Serang Petugas, Gembong Maling Sapi Ditembak

"Curah hujan yang masih tinggi ini berpengaruh terhadap kelangsungan hidup komoditi tanaman kopi," paparnya.

Untuk peningkatan produktivitasnya saat ini, kata Mahmud, bisa mencapai 35 persen dari hasil yang biasanya. Pasalnya biasanya petani hanya mampu menghasilkan 9 kwintal per hektarnya, namun kini bisa menjadi 1,2 ton. Kerja Nyata dengan Mendayagunakan Segala Potensi

Meningkatnya produktivitas komoditi kopi ini juga dibarengi dengan naiknya kualitas hasil panennya. Hal ini bisa terjadi karena hasil panen bisa masak sempurna, sehingga volumenya semakin bertambah.

Di Lumajang ada beberapa jenis komoditi kopi yang ditanam oleh para petani. Diantaranya, yakni jenis Arabica yang ditanam di wilayah lereng Gunung Semeru, meliputi di Kecamatan Gucialit, Senduro, Pasrujambe. Luasan lahannya mencapai 600 hektar. Pelaku Penggelapan Mobil Beraksi di Hotel Aloha

Untuk jenis Robusta, terang Mahmud, dibudidayakan di kaki gunung. Yakni di wilayah Kecamatan Gucialit, Senduro, Pasrujambe, Pronojiwo dan Tempursari. Untuk setiap hektar budidaya kopi, petani bisa menghasilkan 14 kwintal.

Sedangkan untuk jenis Ekselsa yang merupakan tanaman pekarangan, banyak dibudidayakan di wilayah utara Lumajang. Kopi jenis Ekselsa ini di masyarakat wilayah utara Lumajang disebut juga dengan julukan Kopi Nangka. Luasan lahan budidayanya mencapai 600 hektar di wilayah Kecamatan Ranuyoso, Kedungjajang, Klakah, Randuagung, dan sebagian Padang.

"Untuk semua komoditi kopi ini, petani menjualnya langsung ke pengepul. Selanjutnya komoditi dibawa ke luar kota, seperti Malang dan Surabaya," pungkas Mahmud. (fit)

Subscribe to receive free email updates: